Pada suatu hari yang cerah bersama terik matahari yang memenuhi hutan, koloni semut memilih untuk bersantai di rumah mereka sambil menikmati makanan yang berhasil dikumpulkan sejak sepekan yang lalu.
Namun, tiba-tiba saja mereka merasakan guncangan hebat.
“Gempa bumi! Gempa bumi!” Ketua koloni segera berteriak kencang dan memastikan semua semut meninggalkan rumah agar tidak terkena reruntuhan bangunan itu.
Sesampainya di luar, barulah para semut itu mengetahui bahwa goncangan hebat yang melanda mereka bukan berasal dari gempa bumi.
“Kawanan gajah itu yang merusak waktu santai kita,” protes seekor semut yang berada tidak jauh dari kawanan gajah yang mendekat ke arah pohon bambu.
“Hei, Kawanan Gajah! Bisakah kalian pelankan langkah? kalian benar-benar mengganggu.” Ketua koloni semut meminta dengan tegas kemurahan hati kawanan gajah.
“Apa? Kau semut kecil berani-beraninya memerintah kami?” jawab seekor gajah dengan sinis.
Bukannya merasa iba dengan kondisi koloni semut yang terkejut dan berhamburan keluar rumah, kawanan gajah justru menantang mereka.
“Kalian itu hewan paling kecil di hutan ini. Kalian tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi, berpasrah saja!” Seekor gajah menghentakkan sebelah kakinya dan membuat para semut ketakutan dan masuk ke dalam rumah.
Tak berhenti di sana, sekawanan gajah itu malah sengaja menendang rumah koloni semut. Semuanya menjadi berantakan. Beberapa bagian rumah itu hancur begitu saja. Setelah puas menindas makhluk kecil itu, sekawanan gajah kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk minum di sungai.
Pada malam harinya, koloni semut berkumpul bersama. Usai merapikan kembali rumah mereka, para semut itu merasa perlu untuk memberikan perlawanan agar gajah-gajah tersebut tidak terus-menerus menindas mereka.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya salah satu semut membuka diskusi.
“Tenang saja, sebenarnya aku sudah memiliki sebuah ide,” jawab ketua koloni semut dengan tenang.
“Besok, kita harus berani masuk ke dalam tubuh gajah-gajah itu.” Ketua koloni melanjutkan penjelasan strategi untuk membalas perlakuan jahat kawanan gajah.
Keesokan harinya, koloni semut telah siap menunggu di luar rumah. Tidak lama setelahnya, kawanan gajah mulai berjalan mendekat. Ketua koloni menghadang gajah-gajah itu. Ia melarang gajah menghentak-hentakkan kaki secara sengaja di depan rumah koloni semut. Namun dengan angkuhnya, kawanan gajah tidak menanggapi larangan tersebut.
Saat itu juga, koloni semut memberikan serangan mendadak. Mereka mulai memasuki telinga, belalai, bahkan mata kawanan gajah. Meskipun bertubuh besar dan kulit luarnya tampak keras, kulit bagian dalam tubuh gajah tidak sekuat itu.
Begitu para semut menggigitnya, kawanan gajah berteriak kesakitan dan satu persatu tubuh mereka pun terjatuh. Kawanan gajah berbondong-bondog meminta ampun dan memohon maaf kepada koloni semut. Dengan besar hati, koloni semut memaafkan mereka.
Same In Category
- Yuk, Siapkan Perlengkapan Musim Hujan untuk Si Kecil
- Yuk, Pelajari Cara Mempercepat Pembukaan 1 Ke 10 Agar Persalinan Lancar
- Yuk, Ketahui Posisi Tidur Bayi agar Tidak Gumoh!
- Yuk, Kenali Cara Mendeteksi dan Penyebab Bayi Terlilit Tali Pusar
- Yuk, Kenalan dengan Metode Gentle Birth!
- Yang Cepat Tak Selalu Baik, Ini Bahaya Bayi Duduk Sebelum Waktunya
- Willow Mom, Ini Dia Cara Mengatasi Biang Keringat Pada Bayi
- Waspadai Penyakit yang Timbul setelah Anak Berenang
- Waspadai Ancaman Hepatitis Akut Misterius yang Menyerang Anak
- Waspada! Mengenal Cacar Monyet, Wabah yang Berasal dari Afrika
Related Blogs By Tags
- Yuk, Siapkan Perlengkapan Musim Hujan untuk Si Kecil
- Yuk, Ketahui Posisi Tidur Bayi agar Tidak Gumoh!
- Yang Cepat Tak Selalu Baik, Ini Bahaya Bayi Duduk Sebelum Waktunya
- Willow Mom, Ini Dia Cara Mengatasi Biang Keringat Pada Bayi
- Waspadai Penyakit yang Timbul setelah Anak Berenang
- Waspada! Kulit Bayi Rentan Infeksi Jamur saat Musim Hujan
- Waspada Obesitas pada Bayi, Ini Cara Mengatasinya!
- Wajib Intip! Gejala dan Cara Atasi Napas Grok Grok pada Bayi
- Wajarkah Berkeringat saat Menyusui? Ini Sebabnya!
- Wajarkah Bayi Suka Menggigit Selimut?
Leave A Comment